Text
Penance
Satu lagi buku bergenre iyamisu yang aku baca. Ceritanya tentang empat orang perempuan yang membawa trauma masa kecil mereka sampai mereka dewasa. Keempat orang tersebut adalah Sae, Maki, Akiko, dan Yuka. Saat mereka masih kelas 4 SD, mereka mempunyai seorang teman bernama Emily. Emily adalah anak pindahan dari Tokyo. Pada perayaan obon, kelima anak ini pergi bermain bola di sekolah. Saat mereka bermain, ada seorang pemuda menghampiri mereka dan meminta bantuan untuk memperbaiki pipa. Kelima anak saling berdebat tentang siapa yang harus membantu ‘paman’ tersebut. Namun sang ‘paman’ memilih Emily. Sementara sang ‘paman’ membawa Emily, keempat anak lainnya meneruskan bermain bola.
Satu jam berlalu. Namun Emily belum juga kembali. Keempat anak mulai cemas dan segera mencari Emily. Salah satu anak menemukan Emily tergeletak di ruang ganti. Ia sudah tak bernyawa.
Peristiwa pembunuhan tersebut membuat ibu Emily sangat sedih, apalagi keempat anak mengaku tidak ingat wajah pelaku. Ia menganggap gara-gara keempat anak itulah anaknya tewas dan gara-gara mereka pembunuhnya tidak dapat ditemukan. Lalu ibu Emily mengancam keempat anak tersebut agar segera mencari siapa pembunuhnya. Jika tidak, ia akan membalas dendam pada keempat anak tersebut.
Lima belas tahun berlalu. Keempat anak tadi sudah dewasa. Namun mereka masih mengingat ‘janji’ mereka pada ibu Emily. Kata-kata ibu Emily begitu menusuk di hati mereka dan mengakibatkan mereka mengalami hal-hal tak terduga.
* * *
Buku ini dibagi menjadi beberapa bab. Masing-masing bab merupakan cerita dari sudut pandang dari masing-masing tokoh, yaitu Sae, Maki, Akiko, Yuka, dan ibu Emily. Mereka menceritakan bagaimana kisah hidup mereka setelah peristiwa pembunuhan tersebut. Alurnya maju mundur tapi tidak membingungkan. Bahasanya juga mengalir dengan lancar. Dan di setiap bab terdapat ‘kegilaan’ yang membuat tercengang. Benar-benar ‘iyuuhhhh’. Ceritanya menggemaskan! dan sekaligus bikin kita mikir… oh jadi begitu. Kira-kira seperti itu.
Ceritanya memang agak gila. Dari sini jadi berpikir… Hanya karena kata-kata yang dilontarkan bisa mengacaukan seluruh kehidupan seseorang. Makanya, hati-hati kalau mengucapkan sesuatu, pun itu hanya untuk bercanda atau iseng-iseng. Nggak semua orang menangkapnya sebagai candaan atau keisengan.
| B00238 | B-Novel & Sastra PE MI | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain